Indahnya Pulau Lengkuas Belitung

Berlibur ke Belitung sudah kami rencanakan sejak tahun 2016. Rencananya kami akan honeymoon lagi saat ulang tahun pernikahan yang ke-2, tgl.15 Maret 2017 kemarin. Daan ternyata, rencana liburan kami malah dipercepat menjadi bulan Januari, karena kebetulan sekali suami saya ada perjalan bisnis ke Pangkal Pinang.

Ketika suami tau dia akan ke Pangkal Pinang, langsung lah dia ngajak saya. Kan lumayan 1 tiket orang ditanggung kantor wkwkwkw. Pinternya suami abis business trip dia ambil cuti haha, untung bosnya baik. Setelah 2 hari di Pangkal Pinang, kami melanjutkan perjalanan ke Belitung. Oiya, di Pangkal Pinang saya cuman stay di hotel ga kemana karena sebenernya lagi ada deadline pesanan design juga hehe. Jadi, dari Pangkal Pinang langsunglah kita terbang ke Belitung. Terbang cuman 30 menit, ga kerasa baru merem udah nyampe hahaha.

Selama di Belitung kami menggunakan jasa tour guide dari belitungisland.com. Semuanya diurusin oleh travel agent ini, kita tinggal duduk manis aja. Service yang diberikan excellent banget buat kami berdua, dari penginapan, snack dan air dalam mobil, snorkling, makan dan tour guidenya semuanya OK. Tour guide kami namanya pak Togi, orangnya asik banget. Itinerary nya-pun sudah disiapkan sesuai permintaan kami.

Daaan tau ga siih?? bulan Januari kemaren itu kan musim hujan dan banyak itinary kami yang ga kesampean. Sumpah bete akooooh….Kita 4 hari di Belitung, tapi ada satu hari dimana kita cuman dateng ke 1 lokasi. Hujan sepanjang hari menyebabkan kita ga bisa kemana2, karena rata2 destinasinya wisata bahari.

Sempet bete bgt, untungnya pak Togi punya insiatif ngajak kita ke museum binatang. Yang mana sepi bgt, pengunjungnya cuman kita. So sad, wisata museum memang kurang diminati. Tempatnyapun rada serem kalo kata aku, kurang terawat. Padahal disana ada buaya yang dipakai syuting di film laskar pelangi. Tetap saja tidak bisa menarik perhatian wisatawan.

Naaah, cerita bahagianya adalah ketika saya dan pak suami mengunjungi pulau Lengkuas. Pulau ini kan ikon Belitung banget ya, iya ga sih? saya pergi ke sana hari ke dua, alhamdulillah enggak hujan. Yeyeyeye bisa main2 di pantai dengan puas dan saya berani nyobain snorkling hehe. FYI, saya ga bisa renang dan suka panik kalo di laut gtw *cemenbangetya.

Jam 09.00 pagi kita udah dijemput sama pak Togi, kitapun bergegas ke Tanjung Kelayang untuk naik perahu. Karena pake paket tour, satu perahu cuman kita ber-5 isinya (saya, suami, pak togi dan 2 awak kapal). Seneng sih private, kan ceritanya honeymoon hihihi dunia cuman milik kita berdua deh, eeh padahal ada 3 orang lainnya di perahu kita haha. Kurang lebih 30 – 45 menit kita berlayar dan selama berlayar pemandangannya, masyaAllah ajiiiiiib….

Ketika sampai, saya excited ngeliat pasir dan air laut yang bening membiru kehijau-hijauan. Ini yang saya butuhkan VITAMINSEA!!!!. Kegiatan yang dilakukan setelah menginjakan kakai disini ya tentunya dong foto2 sebelum basah hahaha.

20170113_110730

#FollowmetoLengkuasisland

20170113_101430

20170113_110845

Setelah mengambil beberapa foto, kami disarankan menaiki mercusuar terlebih dahulu sebelum basah-basahan. Ini emang yang saya cari, melihat laut Belitung dari lantai tertinggi mercusuar. Fyi, mercusuar disini adalah peninggalan bangsa Belanda. Mercusuar ini dibangun pada tahun 1882 dan memiliki 18 lantai. Setiap lantai memiliki ruangan dan jendela. Semakin tinggi lantainya semakin kecil pula ruangannya. Saya dapet info nih, Jumlah anak tangga pada lantai dasar adalah 18. Lantai 1-10 masing-masing memiliki 17 anak tangga, sedangkan lantai 11-13 memiliki 16 anak tangga. Lantai 14-16 memiliki 15 anak tangga, lantai 17 memiliki 13 anak tangga, dan lantai 18 (lantai teratas) memiliki 8 anak tangga. Total memiliki 313 anak tangga (from Pak Joko)

Saya dan suami sempai kewalahan naik anak tangga nya dan sialnya kami lupa menitipkan tas kami ke pak togi. jadilaah naik2 tangga sambill gendong tas yang isinya lumayan cyiiin, baju ganti dan air mineral 2 botol. Akhirnya kamipun sampai dipuncak mercusuar pulau Lengkuas. MasyaAllah, the view was marvelous. Saya tidak pernah berhenti berdecak kagum dalam hati melihat pemandangan yang luar biasa menyejukan hati, mata dan fikiran.

20170113_102133_HDR

20170113_104736_HDR

20170113_104212_HDR

20170113_103146

Setelah turun dari mercusuar saya dan suami main di tepi pantai, basah-basahan dilanjutkan dengan snorkling tidak jauh dari pulau. Seruuu banget… mau post poto lagi eeh panjaaang bener, takut yang baca mual haha.

Buat kamu yang mau ke Belitung, wajib datang ke Pulau Lengkuas. Belum ke Belitung kalo belum nyampe sini. Walaupun katanya mainstream, tapi buat saya sih enggak tuh.

Kamu pernah ke sini ga?

Advertisements

Terjebak di Upacara Melasti

Seperti yang kita ketahui bahwa kemarin adalah hari raya Nyepi bagi umat Hindu. Selain Nyepi, ada moment yang sangat langka juga terjadi di hari yang sama yaitu Gerhana Matahari Total (GMT). Sayangnya di Bekasi sih ga lewat GMTnya, tapi kate sodara2 saya ada keliatan dikiiiit banget. Karena bangun kesiangan gegara abis solat subuh bobo lagi, yaudah ke-skip aja gtw moment GMT-nya hehe.

Baiklah daripada baper ga dapet GMT mending mau nostalgia dengan pengalaman saya yang terjebak di upacara keagamaan umat Hindu yaitu upacara Melasti. Iya terjebak, memang karena kami ga sengaja berada ditengah-tengah umat Hindu di Pantai Kuta. Btw, apa sih upacara melasti? berikut saya kutip dari mas wiki:

Melasti adalah upacara pensucian diri untuk menyambut hari raya Nyepi oleh seluruh umat Hindu di Bali. Upacara Melasti digelar untuk menghanyutkan kotoran alam menggunakan air kehidupan. Upacara Melasti dilaksanakan di pinggir pantai dengan tujuan mensucikan diri dari segala perbuatan buruk pada masa lalu dan membuangnya ke laut.”

Nah, dari definisi diatas udah bisa disimpulkan bahwa melasti ini adalah upacara pembersihan atau penyucian diri. Biasanya dilakukan beberapa hari sebelum hari raya nyepi. Bukan hanya diri yang dibersihkan, benda-benda sakral milik pura juga ikut dibersihkan. Intinya sih gitu yaaa…

Back to my story….

Jadi, ini kejadian setahun yang lalu tepatnya 18 Maret 2015 ketika saya dan suami honeymoon di Bali. Saat itu kami mengelilingi Bali tanpa tour guide dan menggunakan motor sewaan dari hotel. Destinasi utama kami hari itu adalah pantai yang sangat mainstream yaitu pantai Kuta. Ga mainstreem sih buat kami because this was our first visit.

Dari hotel yang berada di Nusa Dua ke Kuta kurang lebih setengah jam, dengan mengandalkan GPS alhamdulillah ga nyasar. Sesampai disana kami makan dulu di McD kuta dan mencicipi beberapa ice cream disana. Setelah itu, kamipun lanjut main-main di pantai. Pantai Kuta saat itu dihiasi oleh janur-janur yang cantik banget. Janur-janur ini didirikan di sepanjang pantai kuta.

P1080843

Pantai Kuta yang masih sepi

Ketika melihat janur, saya fikir pantai ini abis dipakai upacara. Pada waktu itu jam sudah menunjukan pukul 14.30. Ketika sedang asik memandang laut sambil menikmati Ice cream tiba-tiba ada sekelompok orang mengenakan pakaian tradisional Bali datang ke pantai dan duduk diatas terpal yang mereka jadikan tikar. Mereka membawa beberapa barang keramat dan sesajen. Makin lama ternyata makin banyak kelompok yang datang. Tanpa saya sadari, saya dan suami sudah berada ditengah-tengah umat Hindu yang akan bersembahyang. Ternyata mereka datang berkelompok berdasarkan banjar atau desa. Kamipun penasaran dan bertanya “Ada upacara apa pak?” beliaupun menjawab “Upacara melasti untuk menyambut nyepi” Ooooww… dan pantaipun sudah penuh dengan umat Hindu yang berpakaian adat Bali. Kamipun pindah posisi bergabung dengan turis-turis lainnya dibagian pinggir.

P1080850

Selain orang dewasa ada pula anak-anak kecil yang diikutsertakan. Beberapa dari mereka  berdandan layaknya penari Bali dan pastinya mereka akan menari. Mereka terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Diantara mereka ada yang terlihat lapar dan haus, karena saat itu cuaca panas sekali. Para ibu-pun sibuk mengurus putrinya yang akan menari, ada yang membetulkan make up dan ada yang menyuapi mereka makan. Aaaah mereka menggemaskan, pengen deh pake nyoba pake baju kayak mereka xixixi.

20150318_163154

P1080884

Kasian pada kepanasan

P1080887

Manari diiringi musik Bali yang begitu khas

Anak perempuan bertugas sebagai penari dan anak laki-laki bertugas memainkan alat musik. Hampir seluruh pemain alat musik disini anak-anak atau remaja, hanya ada satu/dua orang dewasa.

P1080869

 

20150318_160714

Kami para wisatawan boleh menyaksikan upacara ini asal tertib. Beberapa wisatawan asing sangat antusias memotret, sehingga beberapa orang tetap berdiri ketika diminta untuk duduk. Beberapa kali diingatkan oleh para Pecalang, tapi tak didengar. Pada akhirnya, seorang pecalang menegur mereka dengan sedikit berteriak “If you don’t sit, Please go home!” Saya dan suami sempat kaget booo, lagian nih bule-bule rese beud. Akhirnya bule-bule itupun nurut dan duduk dengan tertib. Salut euy buat pecalng-pacalangnya, bule aja ampe takut.

20150318_175810

20150318_175418

I love his hair xixi

P1080864

Nyantai dulu aaah sebelum dimulai

Upacarapun dimulai, kami yang menonton melihat betapa umat Hindu yang hadir khidmat sekali mengikuti serangkaian ibadah di upacara melasti. Beberapa pemimpin agama memimpin upacara dengan membacakan kidung atau syair dalam bahasa Bali yang tidak kami mengerti. Saya sempat mengantuk karena kidung yang terdengar mendayu-dayu hehehe. But, it was unforgetable experience that I ever had. Saya merasa sangat beruntung bisa menyaksikan langsung salah satu upacara keagamaan umat Hindu disini. Ya seumur-umur baru kali ini liat begini.  Dibawah ini beberapa foto yang saya ambil, enjoy!!

20150318_172210

20150318_181558

barang-barang kramat dibawa ke laut untuk disucikan

 

 

P1080895

 

P1080898.JPG

20150318_181903

 

20150318_155859

20150318_160025

Begitulah cerita pengalaman saya yang tidak sengaja menyaksikan salah satu upacara umat Hindu di Bali. Kalo kamu pernah punya pengalaman menyaksikan upacara adat di Bali atau daerah lain??

Pesona Curug Parigi Bantargebang

Sebagai seorang yang lahir di Bantargebang, sejak kecil aku sering denger cerita air terjun yang ada disini. Tapi rata-rata cerita orang tua dulu menyeramkan, makanya aku ga pernah berani main ke situ. Karena ga pernah main ke situ, akupun lupa kalo di Bantargebang ada air terjun. Eeeh pertengahan tahun 2015 kemarin ini air terjun ini tiba-tiba jadi famous gituw. Medsos sempat heboh dengan keberadaan air terjun cantik disini. Sontak aku langsung ingat dengan cerita-cerita orang tua dulu. Tapi itu tidak menghalangi rasa penasaran aku nih guys. Dengan banyaknya foto yang beredar di medsos, apalagi yang efeknya luar biasa, curug ini dielu-elukan sebagai air terjun Niagara mini, makin penasaran dong aku. Sudah banyak orang dari luar daerah Bekasi datang hanya untuk menikmati keindahan air terjun dan berfoto-foto, laah aku yang cuman tinggal ngesot doang kesitu belon sempet  ke situ. Kan kan sebagai orang asli sini, merasa ketinggalan eksis.

Karena terlalu lama di rantau, kesempatan untuk berkunjung ke sana pun hanya sekedar angan lalu. Setiap pulang pasti ada saja agenda yang buat aku lupa untuk mengunjungi tempat ini. Alhamdulillah, pas libur imlek kemarin aku dan suami kesampean juga datang ke sini.

Jarak tempuh dari rumah cuman 10 menit, deket banget kan?? tapi butuh waktu 27 tahun untuk menginjakan kaki di tempat ini hahaha. Curug Parigi ini berlokasi di Jl. Raya Narogong Pangkalan 5 Cikiwul Bantargebang, persisnya kamu cari aja PT. Hakapole dipinggir jalan narogong. Setelah itu masuk gang di sebelah PT tersebut. Gangnya tidak terlalu besar, tapi mobil kecil muatlah masuk ke situ. Ketika masuk gang kamu akan lihat pemandangan ilalang dan tanah merah yang belum terjamah. Usut punya usut, tanah luas itu milik pabrik, yang sewaktu-waktu bisa digunakan untuk membangun apa aja. Kalo tanah tersebut dibangun, akses ke curug ini akan sulit guys. Mudah-mudahan saja tidak akan terjadi yaaa…

20160208_11141420160208_11131620160208_111258

Yups, yups, sampai saat ini curug parigi belum di kelola oleh pemerintah setempat. Jadi, belum ada fasilitas memadai, toiletpun tak adeeeuuu. Pipis dulu deh sebelum kesini. Hanya ada beberapa warga sekitar yang memanfaatkan ketenaran curug parigi dalam mencari rejeki.

Sesudah sampai disana, aku celingak-celinguk sambil bertanya dalam sanubari “Ini curugnya dimana???? kok ga ada?” setelah suami bertanya ternyata curugnya ada dibawah. Pantesan ga keliatan toh dia memang hidden xixixixi. Sebenernya dari tadi terdengan suara gemuruh air cuman ga tau sumbernya dimana. Untuk sampai ke curugnya kita harus menuruni anak tangga tanah merah. Tangga ini hanya dibatasi oleh kayu bambu. So, harus hati-hati banget kalo kesini. Apalagi kalo abis hujan licin banget.

20160208_11114020160208_111221
Sesampainya dibawah, aku disuguhkan dengan air terjun curug Parigi yang indah. Gak terlalu terpukau sih karena sudah liat banyak di foto dan denger cerita dari orang-orang. Tapi tempat ini lumayan cocok kalo mau foto-foto dan menikmati gemericikan air terjun. Kebetulan aku datang sekitar jam 11 duileeeh puanasnya pooooll. Aku cuman main dipinggirannya aja, ga niat buat basah-basahan juga sih disini. Airnya berwarna coklat, jadi walaupun disuruh renang aku pasti bakal nolak hehehe. Foto dibawah ini tanpa editan, real pic ya sis…..
20160208_10290720160208_10320920160208_103942
Indah ya air terjun di curug Parigi ini, duluuuuu curug ini lebih indah lagi karena airnya yang jernih dan banyak ikan. Sekarang airnya sudah terkontaminasi, jadi ga ada ikan disini. Untungnya curug parigi ini lumayan bersih dari sampah. Saya menemukan beberapa sampah dipojokan karena tidak ada tong sampah disini. Tapi alangkah lebih baiknya kalo bawa makanan kesini sampahnya dibawa pulang aja.
P1090597

Taman Tabebuya Ciganjur

Last weekend, aku dan suami berkunjung ke rumah mertua di daerah Krukut, Depok. Kami menginap semalam karena ada pengajian mingguan disana. Aku dan suami memang berencana ingin “piknik” ke taman yang berada di sekitar tempat kami, karena sudah mulai bosan ke mall kecuali nonton hehe. Ngomongin taman sempet bingung juga, ke taman mana ya yang enak buat cuci mata dan me-refresh otak sambil lihat dedaunan hijau dan bunga yang berwarna-warni. Kami berniat ke taman Suropati, tapi jarak yang lumayan jauh kamipun merasa malas, yang pada akhirnya kami malah nyasar ke Kebun Margasatwa Ragunan. Cerita di Ragunannya next post ya. Ditengah perjalanan menuju Ragunan, aku melihat taman Tabebuya. Sontak aku minta berenti di taman itu, karena terlihat cantik dan indah. Ruang terbuka hijau (RTH) di Jakarta kan lumayan susah ditemuin, jadi aku kegirangan banget ngeliat taman mungil nan indah ini. Tapi kami ga langsung berhenti di situ, karena destinasi utama kami adalah membawa adik ipar terkecil kami ke Kebun Margasatwa Ragunan.

Sepulangnya dari Ragunan, kamipun berkesempatan mampir di taman Tabebuya ini. Taman ini terletak di Jl.Moh Kahfi I, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Sore itu, hujan sempat turun tapi ga terlalu lebat, jadi cuaca dan udara sore itu sejuk sekali. Pengunjung sore itu tidak terlalu ramai, jadi kita sangat leluasa menikmati taman ini. Taman ini lumayan luas guys dan menyegarkan mata karna dibalut oleh rumput hijau yang tersiram air hujan sedikit aaah sejuk…..

Didepan pintu gerbang berjejer beberapa tukang dagang kaki lima, kamu bisa jajan disitu dan menikmatinya di area taman. Setelah itu kami masuk ke parking area, ukurannya tidak terlalu besar makanya ga akan bisa menampung kendaraan dengan kuantiti yang banyak. Untungnya sore itu kami naik motor. Biaya parkirnya sebesar Rp. 2.000. Disebelah parkiran terdapat toilet umum yang disediakan untuk pengunjung

Di taman ini disediakan jogging track untuk pengunjung yang ingin jogging atau sekedar berjalan mengelilingi taman ini. Dibagian depan taman ada tulisan besar bertuliskan Taman Tabebuya berwarna merah. Tulisan ini dikelilingi kolam buatan yang berukuran sedang, kolam ini dipenuhi bunga teratai dan ikan. Disini kamu bisa ngasih makan ikan looooh….. ikannya lumayan banyak. Untuk anak-anak pasti sangat menyenangkan kegiatan ini.

hd

Sepanjang jogging track ini tersedia tong sampah yang berbentuk buah apel, lumayan banyak tong sampahnya, itu tandanya para pengunjung diwajibkan menjaga kebersihan di taman ini. Adapula patung-patung penguin yang menghisi pinggir kolam.

f

Di tengah taman ada playground untuk anak-anak. Disini tersedia beberapa fasilitas bermain seperti swing, slide, permainan berputar (duuh, aku ga tau namanya apa nih hehe) intinya sih yang dinaikin bocah terus diputerin. Sore itu, ada beberapa anak pula yang sedang bermain di area ini. Adik iparku excited sekali bermain perosotan dan membaur bersama anak-anak lainnya. Aku dan suami mengawasi dari jauh, duduk di tempat duduk yang disediakan didepan playground. Tempat duduknya pun cukup nyaman dihiasi dengan juntaian dedaunan, tapi sayangnya kalo hujan ga bisa dijadikan tempat berteduh.

 

q

y

u

t

Untuk para orang tua yang memiliki anak kecil, taman ini cocok banget loh untuk si kecil bermain sekaligus belajar. Kemarin sempat ketemu beberapa pengunjung yang membawa pet mereka kesini diantaranya ada yang membawa iguana dan musang, tapi saya lupa memfotonya.

Dibagian belakang ada lapangan hijau yang luas, beberapa orang menggunakannya untuk mengobrol sambil bercengkrama diatas rumput atau bermain bola. Selain itu ada pula gazebo yang disediakan bagi pengunjung

erftbgbh

Ditaman ini ada beberapa peraturan yang wajib pengunjung laksanakan, detailnya aku rada lupa karena ga difoto hehehe. Pokoknya kalo pergi kemana-mana, jangan lupa foto ya. Nanti pikun kayak aku hahaha. Yang intinya adalah:

  1. Pengunjung harus menjaga kebersihan di taman ini.
  2. Pengunjung dilarang merusak tanaman atau fasilitas yang ada.
  3.  Pengunjung dilarang berbuat asusila

Sejauh yang aku lihat taman ini bersih, ga ada sampah yang terlihat kecuali dedaunan yang jatuh tertiup angin (tsaaah). Taman ini bisa jadi pilihan yang tepat untuk membawa anak-anak bermain dan belajar dari alam. Mudah-mudahan kedepannya semakin banyak taman-taman indah lainnya disini, biar kita bisa piknik ke taman bukan ke mall hehe.

The last one, kita sebagai pengunjung harus bisa menjaga kebersihan dan ketertiban di public area seperti taman ini. Kalo tamannya bersih, pengunjung juga betah berlama-lama disini.

BALI: Pura Luhur Uluwatu

Suasana liburan akhir tahun udah kerasa banget nih, apalagi anak-anak sekolah sudah bagi rapot. Duuh makin kerasa kan pengen liburannya. Sepertinya hampir semua orang sudah merencanakan holidaynya akhir tahun 2015, salah satunya aku dan suami. Liburan kami memang dilakukan lebih cepat, suamiku ambil cuti 4 hari dipertengahan Desember dari tanggal 14-17 Desember 2015. Kami mengambil pertengahan bulan biar ga terlalu bebarengan dengan liburan akhir tahun takut tempat-tempat wisata terlalu crowded. Luckily, kami dapet diskon tiket juga untuk tanggal segitu, aah kenapa enggak yasudah jadilan kami liburan.

Destinasi liburan kami kali ini adalah Bali, ini kedua kalinya kami ke Bali di tahun 2015. Yang pertama bulan Maret ketika kami honeymoon, itu adalah pertama kalinya kami ke Bali. Saat honeymoon kami tidak menggunakan tour guide, kami hanya mengandalkan GPS dan nanya sama orang. Ada pepatah malu bertanya sesat di jalan, kami sudah tanya saja masih tersesat hahaha. Jadi waktu kami banyak terbuang di jalan makanya kurang puas kemarin explore Balinya. Karena itulah, liburan kali ini kami coba pake tour guide sekalian pengen tau seperti apa rasanya pake tour guide. Karena pake tour guide kita nyantai, ga usah nyari-nyari hotel dkk. Semua itenerary sudah disusun dari jauh-jauh hari, hotel, makan, tiket wisata semua sudah diurus oleh travel kami. Enak sih, ga repot tinggal terima jadi.

Kami berangkat  pada hari minggu pagi tanggal 13 Desember 2015, kami memilih penerbangan pagi jam 7.30 wib. Dari rumah, kebetulan dari rumah mertua di Depok sekitar jam 5 pagi, sampai bandara sekitar jam 6.30 menit, lumayan masih ngantuk sih karena malemnya ada acara keluarga terlebih dahulu dan kami baru tidur jam 12 malam. Kami menunggu sekitar 1 jam sambil chit chat sama suami ga kerasa juga sudah waktunya kami take off.

 

12376161_1002263386487014_8553590545812042758_n

Sleepy girl goes to Bali

Penerbangan yang kami tempuh kurang lebih 1 jam 30 menit, jadi kami sampai bandara I Gusti Ngurah Rai sekitar jam 11 waktu setempat. Ini salah satu sudut di bandara ngurah rai, tepatnya sebelah toilet. Pertama sampai bandara, suasana Bali sudah terasa sekali dari lantunan musik yang ada di bandara, khas bali banget deh. Aku dan suami excited sekali pastinya dan sudah tidak sabar untuk mengekplore Baliiiiiiii.

2

One of the statues in International Airport I Gusti Ngurah Rai Bali

Sesampai disana kami langsung menghubungi tour guide kami yang bernama Bli Ketut Giri, kebetulan dia sudah sampai duluan disana. Selesai bertemu kenalan singkat, kita langsung menuju destinasi yang pertama yaitu Pura Luhur Uluwatu. Sebenernya destinasi pertama kami adalah tanjung benoa, awalnya akan mencoba beberapa water sport yang ada disana. Ternyataaaaaa, kami berdua sudah tidak enak badan dari semenjak hari jumat, suami sempat demam dan kami bapil. Karena kondisi badan berdua kami yang kurang sehat akhirnya kami mengcancle tanjung benoa yang sebagian besar aktifitasnya adalah water sports.

Cuaca Bali siang itu sangat panas, saking panasnya kami hampir menghabiskan 5 botol air mineral selama berada di Uluwatu saja. Kami sampai di Pura Luhur Uluwatu sekitar jam 2 siang, aku sangat merekomendasikan kamu mengunjungi tempat ini di sore hari. Pura ini terletak di desa Pecatu, kecamatan Kuta, Badung. Pura ini terletak sekitar 30 km arah selatan Kota Denpasar, Ibu Kota Priovinsi Bali. Pura luhur uluwatu ini adalah pura yang berada di atas tebing bebatuan tinggi dan terjal menghadap samudra Hindia yang luas membiru. Karena berada diatas tebing, pemandangan yang sangat menakjubkan akan kamu saksikan disini.

Sebelum masuk, Bli kami membelikan tiket masuk dan menyuruh kami memakai kain yang disediakan di tempat penjualan tiket, kain tersedia berupa obi dan sarung. Obi berwarna kuning diperuntukan bagi mereka yang memakai baju atau celana panjang di bawah lutu dan sarung ungu untuk mereka yang memakai baju pendek atau diatas lutut, kami memakai obi kuning. Kain ini digunakan untuk menghormati kesucian pura dan mengikat niat buruk di dalam jiwa.

Sepanjang jalan masuk, kami disambut pepohonan yang tumbuh tinggi menjulang di sisi kiri dan kanan jalan. Entahlah itu pohon apa namanya, tetapi pohon itu berbunga orange yang sedang mekar. Bunga yang sedang bermekaran mempercantik pandangan kami, walau terik kami sangat amazed dengan view yang disuguhkan disini.  Kami jadi merasa sedang menikmati spring di Korea *lebaaay.

3

Entry way to Pura

4

They are blossom

5

is spring here?

Cantik kan viewnya?? kamipun meminta tolong ke Bli untuk mengambil beberapa foto kami dengan background bunga-bunga orange tersebut. Pengunjung hari itu tidak terlalu padat (yaiyalaah, cuman kita-kita aja nih yang berkunjung ke Pura ini siang bolong hahaha), pengunjung didominasi oleh turis China, India dan beberapa turis domestic seperti kami. Setelah itu, kita berjalan menuju anak tangga yang lumayan tinggi. Sebenernya ga terlalu tinggi tetapi karena cuaca yang panas, kamipun ngos-ngosan banget naik tangganya.  Berikut beberapa foto yang kami ambil:

7

Om Swasiastu!

8

Seeing you smile makes me smile more!

Ada apa dibalik tangga??? Ada beberapa pura disana tapi tertutup untuk umum hanya untuk ibadah saja. Photo pura yang aku ambilpun, ng-Bluuuuur! Kami terus berjalan menelusuri beberapa tangga kecil dan sampailah kami di pinggir tebing yang terjal itu. Subhanallah, kami disuguhkan pemandangan yang begitu menakjubkan, indaaaaah sekali. Ombak laut yang besar menghasilkan desiran gemuruh yang sangat kuat, mengalun indah mengiringi hembusan angin. Aaah aku tak bisa mengungkapkan keindahannya dengan kata-kata. Ini pertama kalinya aku kesini dan ga berhenti bersyukur karena diberi kesempatan menikmati indahnya negeri ini.

10

What amazing view!!

 

Kamipun, meminta Bli untuk mengambil foto kami disisi tebing. Oiya, disisi tebing dibatasi oleh bata beton yang sangat kuat jadi ga usah khawatir, asal kita ngambil photonya safely ya ga usah naik-naik ke tembok (takut ada yang nekat). Sewaku bli mengambil photo kami, tiba-tiba rombongan turis India lewat, jadilaaah foto ini hihihihi. Kaos suamiku ampe lepek saking panasnya cuaca hari itu, makanya kalo mau kesini sore aja sekalian lihat sunset, yang konon katanya paling indah di Bali.

11

Boom…our cam got you!

Ini view dari sisi sebelah lainnya, ga jauh beda cantiknyaaaaaaa!!!!

1213

Karena jalan setapak dipinggir tebing ini lumayan panjang, bli kamipun meminta ijin untuk tidak ikut dengan kami menelusuri jalan itu. Laaah bli kami saja sudah kelelahan, tapi kami tetap excited jalan berdua saja sampai ujung jalan. .

Sepanjang jalan ini, terdapat pula hutan kecil yang biasa disebut Alas Kekeran, Hutan tersebut berfungsi sebagai penyangga kesucian dari Pura Uluwatu. Di dalam hutan tersebut banyak monyet liar yang berkeliaran. Pada waktu kami lewat, ada turis yang barangnya diambil oleh monyet. Mereka sedang ditolong oleh penjaga setempat untuk mengambil barang mereka, si penjaga berusaha memanggil si monyet dari dalam pepohonan, entahlah apa yang diambil monyet itu. Jadi, kalo ke sini hati-hati ya guys jangan sampai lengah dengan monyet disitu, jangan memberi makan dan menyentuh mereka. Warning ini pun selalu digaungkan melalui speaker setiap beberapa menit disekitar area pura agar wisatawan selalu waspada.

Tak terasa sampailah kami diujung tebing ini, diujungnya yaa ga ada apa-apa sih. Hanya ada 1 toko souvenir dan pemandangan tebing dilihat dari sudut ini:

15

16

Blue ocean and blue clothes, matched!

Yups, selesai sudah kita menelusuri jalan setapak nan panjang ini di Pura Uluwatu. Disini kamu bisa menikmati pemandangan laut samudra Hindia dan tebing yang sangat luar biasa, luar biasa banget bagi aku hehehe ga tau deh yang lain gimana. Kalo kesini bawa air minum yaaa, karena sangat melelahkan untuk muter-muter dikawasan pura ini.

For your info, di kawasan pura ini juga ada pertunjukan tari kecak yang biasanya diadakan setiap jam 19.00 WITA. Sayangnya, hari itu agenda kami akan menikmati sunset di Jimbaran. Jadi nonton tarian kecaknya dipending dulu deh. Harga untuk menonton tari kecak Rp.100.000/orang.

17

OOTD ceritanyaaa

See you next post karena masih banyak destinasi di Bali yang kami kunjungi kemarin.

 

Bandung: Restoran tanpa piring “ALAS DAUN”

Hey, meet me again!

Bandung adalah salah satu kota favorit orang-orang Jakarta di waktu weekend atau hari libur. Kalo denger Bandung kesan yang pertama muncul adalah tempat belanja baju karena banyak FO dan tempat makan enak karena kulinernya yang sangat inovatif dan variatif. Apalagi sekarang walikotanya keren banget kang Emil, yang sangat gencar membangun dan mempercantik Bandung, terutama public servicenya. Ga mau pulang deh aku kalo berkunjung ke Bandung, aaah pokoknya abdi cinta pisan sama Bandung hehe.

Beberapa minggu yang lalu, saya, suami dan teman suami (Sigit dan Kiki) membanduuuuuuung *kataanakgaulgitungomongnya. Perjalanan ke Bandung ini sebenernya business trip suami, shipping barang untuk klien, Kebetulan hari Minggu, sekalian aja kita jalan-jalan.

Dari Jakarta kami pergi siang hari kurang lebih jam 11 siang, karena paginya temen suami ada urusan terlebih dahulu. Nyampe Bandung jam 2, karena sudah laper akhirnya kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Bingung mau makan dimana? Saking banyaknya resto favorit disana. Akhirnya, suami mengajak kami ke Alas Daun. Ini bukan pertama kalinya saya ke resto ini, melainkan ke-dua kali. Tapi karena makanannya enak, jadi saya langsung mengiyakan saja late lunch disana. Alas daun adalah resto yang menyediakan makanan tradisional sunda.

Alas daun ini beralamat di : Jl. Citarum No. 34, Bandung

Ketika sampai di depan resto, akan ada tulisan besar “ALAS DAUN” diatas gedung resto. For your info, resto ini mengusung konsep bangunan yang terbuka jadi ga pake AC disana, tempatnya juga cukup luas. Menurutku lumayan nyaman walau agak panas dikit. Ketika masuk ke dalam gedung, di bagian depan akan berjejer bangku-bangku di dinning area utama untuk pengunjung yang biasanyanya datang dengan group besar. Seperti ini penampakannya:

restaurant-alas-daun

Taken from tripadvisor.com

1

Dinning area

Maapkeun ya kalo rada ngeblur fotonya. Kami mendapatkan meja di tengah. Bagi saya, meja di tengah kurang nyaman karena berada di dalam ruangan yang agak tertutup jadi gerah deh. Selain itu, meja kami berada disebelah jalur orang mondar-mandir heem tapi karena lapar ya sudah dinikmati saja. Fotonya seperti dibawah ini, no.27 adalah meja kami. Didepan meja kami terdapat counter yang menyediakan ice cream, snack dan merchandise. Di tembok atas sebelum ceiling terdapat papan-papan kecil putih berisikan testimony para pengunjung yang datang, kebanyakan sih artis-artis yang kasih testimony.

 2

Bagian tengah resto, penghubung dinning area dan food counter

 3

Sigit, Kiki, Hubby and Me

Melangkah lebih dalam ada food counter dan beberapa dinning area dengan ceiling terbuka. Aku pengen banget makan di situ sebenernya eeeh sudah penuh. Di bagian dinning area sebelah ini, lumayan adem dan sejuk karena ada anginnya. Bagian terbukannya seperti ini:

4

Lumayan seger lah yaa, ada pohon-pohon nya juga jadi makan lebih enak. Bagian terakhir resto ini adalah food counter dan cashier. Nah, ada 2 jenis menu disini, menu yang sudah dimasak dan belum di masak. Menu yang belum dimasak sebagian besar lauk (seafood), jadi kamu tinggal pilih lauknya mau digoreng, dibakar atau diapain aja tergantung selera. Menu yang sudah dimasak kebanyakan sayuran yang ditumis dan gorengan. Disini disediakan berbagai macam jenis lalapan dan sambal, dari yang sambal goang (mentah, goreng, cabe ijo, dll) Warning! sambelnya too spicy buat aku. Kalo kamu suka sambel disini puas banget bisa nyoba banyak macam sambal.

 5

Food counter & Cashier

Kami memesan beberapa menu, untuk lauk kami memesan baby shark bakar, beberapa tumisan seperti tumis bunga papaya, oseng tahu, oseng kecipir, tutuuuuuuut, beberapa sambal, dan tak ketinggalan adalah lalapan yang banyak. Harga tumisan berkisar Rp. 15.000–Rp.20.000 dan untuk untuk baby sharknya kisaran harga Rp. 35.000–Rp.45.000. untuk lalapannya Rp. 7000 bisa pilih sepuasnya, kecuali petai bakar yang saya pesan 1 papan seharga Rp. 8000, mahal ya booooo petenya hahaha. Penyajiannya unik banget, pake kuali yang biasa aku gunakan waktu aku main masak-masakan di waktu kecil.

 6

Sambal dan tumisan

 7

Mendoan, petai dan baby shark bakar

For your info, ini petama kali saya makan baby shark, rasanya…… heemm pastinya enak hihi. Tekstur dagingnya seperti lele, tidak bertulang.

Untuk menyantap makanan ini, kita tidak menggunakan piring, yang kita gunakan adalah banana leaf alias daun pisang. Nah! Itulah yang membedakan alas daun dan resto lainnya. Dengan menggunakan daun pisang, makanan terasa lebih nikmat, karena aroma daun pisang meningkatkan selera makan kita.

 8

Rice on banana leaf

Kalo ditotal semuanya, kami berempat dengan menu yang lumayan banyak itu menghabis kan Rp. 326.000. Kalo dibagi empat perorang kurang lebih membayar sekitar 80-ribuan, worth to try banget deh. Harganya juga reasonable, sesuai sama rasa dan pastinya pas di kantong saya. Kalo boleh kasih nilai untuk resto ini antara 1-10, aku kasih nilai 8,5.

Kekurangannya, waiternya harus memperbanyak senyum hehehe.

Jadi kalo kamu ke Bandung dan bingung makan masakan sunda dimana, coba aja ALAS DAUN. Dijamin pengen balik lagi *iklanbangetyabooooo hahaha.

Terimakasih telah membaca, semoga bermanfaat.

Love, love, love

Egiyantina

Tegal: Kota Bahari

Hai teman-teman…apa kabar? ini adalah post pertama saya setelah lebaran, tepatnya sih post pertama di bulan Agustus hehe…

Kali ini saya mau menceritakan pengalaman mudik lebaran pertama saya minggu lalu. Kebetulan suami saya orang Tegal yang merantau ke Jakarta, jadilah saya juga sekarang punya kampung halaman. Saya dan keluarga pergi mudik hari minggu tgl.20 July, jam 05.30 setelah solat subuh. Kami berlima yang terdiri dari saya, suami, ibu mertua, bapak mertua dan kedua adik ipar saya. Tadinya bapak mertua mau mencoba lewat tol baru yaitu tol Cipali, berhubung sepertinya semua orang ingin mencoba tol itu, kami mengurungkan niat kami karena terjadi macet yang luar biasa di ruas tol Cipali *bedasarkanberitasebelummudik. Akhirnya, kami memutuskan untuk lewat Pantura saja. Bismillah…semua ready langsung cuuuuss ke kota Tegal. Beruntungnya kami lewat tol pantura, karena lancaaar selancaar lancar nyaaa hahaha, ada saudara kami yang kebetulan lewat tol cipali terjebak macet yang sangat panjang. Pokoknya alhamdulillah banget perjalanannya lancar dan selamat sampai tujuan sekitar jam 11.00 siang hari. Jadi kalo dihitung saya membutuhkan waktu sekitar 4,5 jam untuk sampai di kota Tegal.

  • Suasana kota Tegal

Ternyata kota Tegal ini ga jauh-jauh amat sih, letaknya yg berada di jalur pantura membuat saya merasa cepet banget nyampenya, kata bapak mertua 4,5 jam terhitung cepat untuk sampai di Tegal. Kota Tegal ini berbatasan dengan kabupaten Brebes sebelah barat, dimana saya melihat berjejeran toko “Telur Asin” khas oleh-oleh Brebes dan Tegal. Rumah kakek saya bertempat di desa Cebawan Kec. Margadana. Kesan pertama ketika sampai, saya langsung ngomong sama suami “Kok kayak komplek perumahan sih, ga ada desa-desanya banget gitu” sontak suami saya ketawa, sebenernya udah dikasih tau sama suami kalo kampungnya itu bukan desa yang seperti ada di benak saya, udah kota.Yang saya suka di desa ini rumah tertata rapi seperti di komplek, jalanan aspal dan masih banyak pepohonan, oiya satu lagi rumahnya besar-besar dan bagus. Begini nih gambarannya…

20150722_170822[1]
Suami dan lilik sof, Lilik means tante 🙂
My brother in law stood in front of Bapak Tua's house (grandpa)
My brother in law stood in front of Bapak Tua’s house (grandpa)

Begitulah suasana di sekitar rumah kakeku bersih, tertata rapi dan ramah-ramah orangnya.

  • Wisata Tegal

Sesudah sampai di rumah kakek saya, mulailah saya dan suami merencanakan akan pergi kemana saja disini. Kebetulan mudik kali ini cukup lama dari hari minggu-kamis, kalo ga dipake buat jalan-jalan kan sayang banget. Karna semua kelelahan di hari pertama, kami mengisi waktu dengan ngobrol-ngobrol bareng keluarga dan istirahat. Kami tidur di rumah Lik Sof yang bersebelahan dengan rumah kakek, dan rumahnya penuh sekali karena keluarga bapak mertua cukup besar dan semuanya tinggal di Jakarta jadilah rumah lik Sof yang dipake penginapan ketika semuanya mudik.

di hari kedua, suami saya mengajak jalan-jalan sore tepatnya ke Alun-Alun kota Tegal. Enaknya jalan sore di kota Tegal, kalo kata saya suasananya mirip Jogja. Saya naik motor bersama suami, kami jalan-jalan berdua saja. and here it is Alun-alun kota Tegal.

Keramaian alun-alun kota TegalKeramaian alun-alun kota Tegal

20150720_173250Sore ini alun-alun ramai dengan pedagang jajanan kaki lima, mainan anak-anak, dll. Banyak pedagang yang membuka tikar, jadi untuk para pengunjung yang ingin makan bisa lesehan disini dan didepan alun-alun ini terdapat mesjid agung kota Tegal. Disini sedikit macet karena banyak perkir liar yang menggunakan bahu jalan. Cukup meriah dan bisa cuci mata, disini saya cuman sempet makan bakso yang harganya ga jauh beda sama yang di Jakarta 12.000/mangkuk padahal pengen coba makanan khas sini kupat glabed tapi lagi penuh banget dan saya males ngantri.

Hari ketiga di kota Tegal…

Sekitar jam 08.00 pagi saya, suami dan adik sepupu pergi ke pantai Muara Rejo yang dekat dengan rumah kakek. Sebenernya ga deke-deket amat tapi sepupu saya tau jalan pintas ke sana dengan pemandangan yang bagus, tapi sayang jalannya kurang bagus hehe. Kami pergi kesana dengan motor, pas ngeliat jalannya yang berbatu haduuh bakal pegel-pegel nih sepulang dari pantai. Karena pemandangannya yang bagus sayapun merasa teralihkan dari jalanan batu, ada kebun mangrove dan banyak tambak ikan.

Tambak ikan warga sekitar
Tambak ikan warga sekitar

Sesampai disana kami harus membayar Rp.2000 saja untuk masuk kawasan wisata pantai muara rejo. Setelah mendapat lokasi yang cukup cucok untuk menikmati pantai, kamipun berhenti tepat di depan warung-warung kecil di tepi pantai. Kebanyakan warung disini menyediakan pop mie dan soft drink saja. Saya dan sepupu sempat bermain di pantai untuk mencari keong/kelomang, sayangnya tidak banyak kelomang yang muncul saya cuman dapat satu ekor saja. Kalo adik sepupu saya kemarin sempat kesini, dapet banyak kelomang. Karena wisata ini masih dikelola warga, jadi ga banyak fasilitas yang bisa dinikmati, semuanya masih serba terbatas. Sangat disayangkan pula, banyak sampah di pinggir pantai saya yang berencana mau berbasah-basah ria di pantaipun tidak jadi.

Sekitar jam 11.00 kami pulang, bapak mertua saya mengajak saya jalan-jalan lagi. Awalnya tujuan kami adalah kawasan wisata Guci, mengingat jarak yang cukup jauh dan jalan menuju kesana macet parah *info dari saudara, maka kamipun merubah destinasi kami ke pantai Purwahamba Indah (Pur In). Yeeeaa pantai lagi, emang banyak pantai disini makanya kota Tegal dijuluki dengan kota Bahari. Untuk pergi ke Pur In tidak memakan waktu yang lama dari rumah kakek, hanya sekitar 30 menit saja.

Sesampainya kami disana, kami harus membayar Rp.52.000 untuk 5 orang dan parkir mobil sebesar Rp. 5.000 lumayan murah meriah. Ketika masuk parkiran, owalaaaaah ruamee tenan….ampe susah cari parkiran. Saya sudah membayangkan saja ini di pantai hamparan manusia semua kayaknya. Dikawasan ini juga terdapat water park, tapi kami tidak masuk ke water park. Suasana nya rame banget ditambah dengan banyaknya pedagang kaki lima dan tentunya cuaca saat itu panas karena kami nyampe pantai sekitar jam 12.30 bisa dibayangin?? bisa dibayangin?? Untuk menuju pantai kita harus jalan kaki dulu sekitar beberapa meter saja sih *ga ngukur, sepanjang jalan banyak sekali pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya.

Jalan menuju pantai Pur In
Jalan menuju pantai Pur In

Setelah sampai di tepi pantai, yang saya lihat hanya lautan manusia yg begitu banyak menyesaki pantai. Sekali lagi saya mengurungkan diri untuk berbasah-basahan disana. Ga kebayang deeeh… ga asik aja bagi saya. Akhirnya kami sekeluarga mencari tempat unuk beristirahat, disana banyak warung-warung kecil yang menjual jajanan seperti baso, pecel, manisan, dll. Kalo saya dari awal udah ngebet banget pengen makan kelapa hijau. Alhamdulillah kesampean, seger banget minum kelpa hijau di tepi pantai.

Purwahamba Indah Beah
Purwahamba Indah Beach
20150721_103902
The Boys

Jadi ngapain aja di Pur In? menikmati pemandangan orang-orang lalu lalang saja sebenernya sambil makan rujak dan pecel. Oiya banyak sekali toko yang menjual manisan pepaya, berwarna-warni ada yang merah, hijau bahkan kuning. Ada juga yang menjual kaos dengan tag line kota Tegal “Tegal Laka-laka” saya ga tau artinya apa, kata suami laka itu “ga ada”, kalo “laka-laka” dia juga ga tau hahahaha. ada yang tau gaa???

Hari keempat di kota Tegal

Di hari ke empat kami sekeluarga menyempatkan untuk bersilaturahmi dengan saudara yg berada di kota Brebes, sebenarnya tidak membutuhkan waktu yang lama untuk ke Brebes berhubung sedang arus balik kami terjebak macet yang cukup parah. Beruntungnya mertua saya tahu jalan alternatif untuk menghindari macet, akhirnya kamipun melewati jalanan kecil untuk cepat sampai brebes. Kurang lebih satu jam kami sampai di rumah saudara. Setelah berkunjung kami memutuskan untuk pergi ke pantai Randusanga Wetan Brebes. Pantai ini perbatasan antara kota Brebes dan kota Tegal. Objek wisata ini sudah dikelola oleh dinas pariwisata daerah, harga tiket masuk pun lebih mahal di bandingkan pantai yang lain. Harganya? tetooong saya lupa!! pantainya ga jauh berbeda seperti pur in dan muararejo, tak ada pasir putih yang bisa anda nikmati, tapi so far so good sudah banyak fasilitas memadai di sana seperti banyaknya rumah makan yang menyediaknan sea food, panggung gembira, arena balap motor, cafe, dll. Oiya banyak juga kios yang menjual oleh-oleh khas brebes yaitu telur asin dan bawang merah.

CYMERA_20150723_090450[1] CYMERA_20150722_164723[1]

Disini pun kami hanya berfoto-foto saja mengingat lilik yang “masak besar” di rumah, kamipun segera pulang sekitar jam setengah 3 sore. Kami hanya mengambil beberapa foto saja disana.

  • Jajanan khas Tegal

Kalo di tanya, makan apa aja disana? saya makan banyak disana sampai naik 3kg hahaha dan saking banyak nya lupa apa aja yang dimakan. Di lingkungan rumah kakek banyak sekali penjual makanan yang lewat, dan setiap yang lewat kita berhentikan, sampai-sampai jualannya habis dibeli kita semua. Jajanan pertama yang saya makan adalah Es dawet, es dawetnya berbeda sekali dengan yang ada di Jakarta atau Bekasi yang sudah banyak divariasikan. es dawet ini masih original, dawetnya berwarna putih lembut,diberikan kuah gula merah. Si ibu penjual ini hanya membawa beberapa es batu untuk mendinginkan es dawet kami. Disajikan di mangkuk kecil tapi ga kecil-kecil bgt sih, es dawet ini diberiikan 2 potongan es. Enak, sedaaap dan harganya cuman Rp.2.000 sajaaaa. murah banyak kaaan, sayangnya saya lupa foto makanannya huhuhu.

Satu lagi, si ibu ini membawa jajanan yang lain yang bernama Kojek saya kira “Gojek” hahaha. Apa sih kojek?? kalo kata saya ini cilok, sama persis dengan cilok tapi sedikit ada rasanya. disajikan dengan kecap dan saus duuh jajanan SD banget niiiih. Harganya? celebu dapet 4 butir kojek. muraah murah murah kojeknya pun ludes dimakanin kita semua. Sepertinya hari ini hari keberuntungan si ibu penjual kojek, berhenti di satu rumah langsung ludes dagangannya, jadi si ibu ini ga usah deh keliling-keliling kampung khusus hari ini. Terimkasih ibu membuat perut kami happy!!

Apa lagi yang enak-enak??? malamnya saya dibelikan Tahu Kuping oleh sepupu saya. Haaah? tahu kupiing? bentuknya kayak kuping atau gimana nih? karna saya ga ikut membeli kan jadi penasaran. Setelah sepupu saya pulang dan membawa tahu kuping. Ditunjukanlah itu tahu kuping…. ternyata tahu ditambahkan aci dipinggirannya lalu digoreng. Tahu ini biasa juga disebut dengan tahu aci.

Tahu Kuping
Tahu Kuping, source : www/tegallakalakamoncerkotane.blogspot.com

Rasanyaaa? yaa rasa tahu hehehe enak deeng ada sensasi kenyek-kenyel dari acinya, paling enak dimakan panas-panas ditemani cabai atau saus juga nikmat. Biasanya mamah mertua saya membeli tahu kuping yang mentah untuk jadi oleh-oleh karna lilik saya sudah terlanjur memasaknya, jadilah bawa yang matang dan ludes di perjalanan pulang kami sebagai cemilan.

Next? masih adaaa nih guys namanya Olos. Apa itu olos? lagi-lagi olos ini terbuat dari aci yang dibentuk seperti bola ping-pong. Karena berbentuk bulat olos ini ga cuman bulet kosong tapi ternyata ada isinya, isinya apaa?? macam-macam dong kebetulan yang saya makan olos berisi irisan daging ayam dan sedikit sayuran. Rasanya? sedikit pedas, enak tentunya karna ini bukan aci biasa, tapi aci isi….

olos.gambar
OLOS (source: wisata-tegal.blogspot.com)

Enak deeh waktu di Tegal kerjaannya makan melulu, masih banyak makanan khas Tegal yang lain seperti kupat glabel, sate tegal, nasi pongol dan masih banyak yang lainnya.

  • Oleh-oleh

Naaaah naaah ini nih yang paling penting OLEH-OLEH khususnya buat keluarga saya. Apa nih oleh-oleh khas Tegal. Saya sebutkan beberapa saja ya. Dikarenakan kota Tegal juga terkenal dengan kota penghasil teh karena teh-teh ternama di Indonesia diproduksi disana contohnya teh poci, teh 2 tang, teh Tong Tji dan masih banyak yang lainnya. Teh disini khas banget, beraroma melati dan rasanya manis sepet dan kental.

Teh-Poci-Mas-1024x768
source: http://www.ditegal.com
pic20150224103514_SLIDE-3-1
source: ditegal.com

Di kota Tegal ini kita tidak hanya dimanjakan dengan banyaknya varian teh bubuk ini, disini pula banyak yang menjual poci/teapot khusus membuat teh yang sudah dilengkapi dengan cangkir-cangkir yang cantik. teko ini banyak di temukan di sepanjang jalan kota Tegal, kisaran harga mulai dari Rp.65.000 sampai Rp.150.000

teko-gerabah-merah

Di desa cebawan ini ternyata ada yang memproduksi telur asin, walaupun oleh-oleh ini identik dengan kota Brebes tapi ga ada salahnya di beli di Tegal hahaha

20150722_171236[1]
Beli langsung sama yg buat lebih murah

20150722_171107

Wow ternyata panjang juga ya pos saya kali ini, kayaknya dah cukup ya nanti yg baca bosen lagi hehehe. begitulah cerita mudikku ke kampung halaman suami di kota Tegal. Kalo kamu mudik kemana??