A Story about Mamah

Selamat hari ibuuuuuu…. untuk semua ibu di Indonesia.

Hari ini Selasa 22 Desember adalah Hari Ibu nasional di Indonesia. Ternyata, setiap negara memiliki tanggal yang berbeda-beda dalam merayakan mother’s day. Di Amerika dan lebih dari 75 negara lain, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hong Kong, Hari Ibu atau Mother’s Day dirayakan pada hari Minggu di pekan kedua bulan Mei. Di beberapa negara Eropa dan Timur Tengah, Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day diperingati setiap tanggal 8 Maret (wikipedia).

Kita tengok sejarang sedikit, dipilihnya tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu Nasional karena pada 22 Desember tahun1982 diadakan peringatan ulang tahun ke-25 kongres perempuan Indonesia. Tanggal ini dipilih untuk merayakan semangat wanita Indonesia untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Hari inipun diresmikan oleh presiden Soekarno di bawah Dekri Presiden No.316 tahun 1953 (wikipedia). Naah, itu tuh cerita singkat tentang hari ibu di Indonesia, kalo mau lengkap silahkan googling sendiri yaaa :)).

Seiring berkembangnya zaman, hari ibu saat ini adalah hari dimana seorang anak mengungkapkan rasa cinta, sayang, terimakasih, hormat, dll kepada ibu. Beberapa dari mereka mempersiapkan kado spesial untuk ibu atau ada yang traktir ibu makan dan belanja?? Apapun yang kamu lakukan pasti semata-mata ingin membahagiakan ibu. Betulkan??

Aku bukan tipe orang yang pandai merangkai kata untuk mengungkapkan perasaan, apalagi mengungkapkan perasaan untuk ibu membuatku ingin selalu menangis (aku orangnya sensitif banget). Aku tak punya satu katapun yang bisa mewakili perasaan aku terhadap ibu. Karena sebenarnya beribu-ribu kata I love you pun tak bisa mewakili perasaan sayangku untuk ibu. Begitulah besarnya cinta, tak bisa diungkap dengan kata. Makadari itu, pada kesempatakan yang spesial ini aku akan bercerita tentang ibuku yang sangat hebat. Aku panggil ibuku dengan mamah.

Nama mamahku Nur’aini, yang berarti cahaya mataku, tetapi tidak hanya matanya yang aku lihat, cahaya hatinyapun bisa aku rasakan. Mamahku lahir pada tanggal 2 februari 1969, terlahir dengan ayah seorang pedagang dan ibu seorang ibu rumah tangga. Beliau anak ke-2 dari 13 bersaudara, 3 saudaranya meninggal sewaktu kecil dan yang tersisa 10 orang saudara kandung, 6 laki-laki dan 4 perempuan. Semasa muda, mamahku sudah sangat mandiri dan dewasa dikarenakan adik-adik yang begitu banyak mamahkupun menolong nenek untuk mengemong adik-adiknya. Untuk sekolah SMA mamahku harus ngotot dan nekat, karena pada waktu itu kakek dan nenek sudah tidak sanggup membiayai sekolah mamah. Tapi pada akhirnya alhamdulillah mamahku bisa lulus SMA juga dengan sangat susah payah. Lulus SMA, mamahku ingin sekali melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun sayang, kakeku saat itu benar-benar give up membiayai pendidikan mamah. Pada saat itu, kakek lebih memberikan kesempatan kepada saudara laki-laki mamah untuk kuliah. Akhirnya, mamahkupun mengalah. Dalam kesedihannya, mamah tidak putus asa tetapi itu menjadi cambukan dan motivasi agar menjadi pribadi yang lebih baik. Karena tidak kuliah, akhirnya mamah mengambil kursus jahit selama bertahun-tahun. Setelah 2 tahun belajar dan memperdalam ilmu menjahit, mamah membuka usaha jahitnya di rumah. Usaha jahitnya berkembang pesat, dengan menjahit seorang diri mamah mampu menjahit berpuluh-puluh baju dalam sebulan. Dari jerih payahnya menjadi penjahit dan bekal ilmu yang sudah cukup menurut mamah saat itu, di tahun 2002 mamah membuka kursus jahit di teras rumah kami.

Mamah seseorang yang open minded dan bersemangat dalam belajar, beliau tidak pernah berhenti belajar hal yang baru sampai detik ini. Tahun 2003, beliau menyelesaikan pendidikan kursusnya hingga pendidikan tenaga penguji praktek tingkat mahir. Tahun 2007, mamahku melanjutkan kembali pendidikannya yang sempat tertunda. Sewaktu ditanya olehku “Mamah beneran mau kuliah?” beliaupun menjawab dengan begitu sederhana ” Iya teeh, mamah malu, karena teman mamah punya gelar semua di belakang namanya, sedangkan mamah enggak, setidaknya dengan kuliah mamah bisa meningkatkan kualitas diri mamah” dengan semangat yang membara beliau lulus di tahun 2011. Akhirnya. cita-cita mamahku untuk kuliah sudah tercapai.

Empat bulan sebelum wisuda, mamahku mengalami kecelakaanΒ  motor yang mengakibatkan 3 tulang rusuknya patah. Kaget dan sedih sekali aku waktu itu. Saat itu aku sudah lulus kuliah dan kerja di Bekasi, adikku kuliah di Bandung. Kurang lebih setahun lamanya adikku dilarang pulang oleh mamah, beliau tidak mau mengganggu konsentrasi adiku yang sedang kuliah. Ketika pulang ke rumah dan diceritakan apa yang terjadi sama mamah adikku langsung nangis sesegukan.

Selama 6 bulan mamah tidak bisa bangun, beliau hanya berbaring dan tidak bisa melakukan kegiatan apapun. Kursus jahitnya untuk sementara ditutup dan siswanyapun diliburkan sampai waktu yang tak ditentukan. Dalam mengobati patah tulang mamah lebih percaya tukang urut ketibang operasi. Akhirnya mamahpun rutin diurut setiap 3 hari sekali agar tulangnya menyatu kembali, you know? IT WORKS!

Hari wisudapun datang tapi mamah masih berbaring di kasur, untuk menopang badannya sendiri sajapun mamah belum mampu. Kami sekeluarga menyarankan untuk tidak ikut acara wisuda, tetapi beliau keukeuh sekali ingin ikut. Akhirnya, mamah ikut wisuda menggunakan kursi roda. Duuuh kalo inget masa itu, selalu terlinang air mataku. Mamah yang begitu kuat dan aktif, tiba-tiba tak berdaya seperti bayi. Rasanya di hati ituuu perih, sedih, sakit hati ini melihat mamah menahan kesakitannya. Andai bisa bertukar posisi saat itu, aku rela menggantikan mamah tetapiΒ  yang bisa aku lakukan hanya berdoa dan siap siaga untuk mamah.

Dua tahun lamanya menyempurnakan kesehatan, akhirnya mamah bisa belajar berjalan lagi. Terharu sekali rasanya, keinginan mamah untuk sembuh begitu kuat sehingga energi positif selalu mengalir didirinya.

Di tahun 2013, beliau mulai membangun kembali usaha kursus jahitnya walaupun masih dalam proses pemulihan. Memanggil kembali murid-muridnya yang sempat beliau tinggalkan selama sakit, Alhamdulillah, sejak itu usaha kursus jahit beliau semakin maju. Beliau diberi kepercayaan oleh dinas pendidikan kota untuk memberika pelatihan menjahit kepada ibu-ibu di desa sekitaran kota kami. Karirnya mulai melaju kencang, beliau ditawari untuk menjadi ketua Ikatan Penata Busana Indonesia (IPBI) kota Bekasi. Tapi beliau menolak, dikarenakan kegiatan tersebut sangat menyita waktu sedangkan beliau ingin mengajar.

Sudah hampir 14 tahun beliau memimpin lembaga ini, sudah ratusan atau mungkin ribuan alumni yang lulus dari lembaga ini. Banyak alumni yang bisa mandiri atau mendapatkan pekerjaan yang lebih baik ketika memiliki keterampilan. Kamu bisa lihat profil lembaga pendidikan nonformal mamahku di Kursus Jahit Nuraeni.

Itulah mamahku, bagiku beliau inspirasi dan motivasi terhebat dalam hidupku. Beliau mengajarkanku arti kesabaran yang begitu luas, semangat yang selalu membara dan kemandirian dalam menjalani hidup.

Terimakasih mamah, telah menjadi ibu yang terbaik untukku. Maafkan anakmu bila belum bisa membahagiakanmu. Semoga Allah senantiasa memberikanmu umur panjang, kesehatan, rejeki, dan keselamatan dunia akhirat.

I do really love you!

12239747_994700030576683_6504895236754686383_n

Advertisements

2 thoughts on “A Story about Mamah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s