Kecewa & Mengecewakan

Kecewa adalah salah satu gejala jiwa (emosi) yang dimiliki oleh setiap manusia, kecewa ini sering didominasi oleh rasa sedih dan amarah. Gejala jiwa ini sangat tidak menyenangkan, makanya tak ada satu orangpun mau kecewa atau mengecewakan karena dua-duanya terasa sangat menyakitkan.

Dalam Kamus besar bahasa Indonesia kecewa diartikan 1 kecil hati; tidak puas (krn tidak terkabul keinginannya, harapannya, dsb); tidak senang  2 cacat; cela 3 gagal (tidak berhasil) dl usahanya dsb.  Dari artinya saja kita bisa menyimpulkan bahwa kecewa adalah perasaan yang tidak senang atau tidak puas dengan apa yang sudah terjadi.

Biasanya rasa kecewa ini muncul ketika apa yang kita harapkan tak sesuai dengan kenyataan. Maka dari itu kadang kita sering mendengar kata–kata “Jangan terlalu berharap” dan lebih parah lagi jangan sampai kita “PHP” deeh, kita bisa kecewa dan kita bisa mengecewakan orang lain. Di dalam hubungan antar manusia, kecewa ini sangat sensitif sehingga ketika kecewa atau mengecewakan itu terjadi kadang hubungannya antar manusia akan berubah menjadi buruk. Walaupun ada beberapa saling mengerti, tapi ini butuh waktu  yang cukup lama.

Kalau boleh memilih diantara kecewa dan mengecewakan, saya lebih memilih kecewa daripada mengecewakan. Karena bagi saya mengecewakan lebih sakit dibanding dikecewakan, sebenarnya sih dua-duanya sama-sama sakit. Mungkin bagi sebagian kalian juga seperti itu atau ada yang berbeda pendapat? Mengacu kepada pengalaman hidup (tssaah kayak yang udah berpengalaman aja nih) mengecewakan lebih ga enak dibanding kecewa. Saya merasa dengan mengecewakan seseorang, sepertinya saya sudah dianggap buruk oleh teman saya atau sudah dianggap tidak baik bagi orang tua saya. Kepercayaan mereka terhadap saya sudah hilang, jadi sebaik apapun saya di depan orang yang pernah saya kecewakan tetap saja buruk.

Kalian pernah merasa kecewa ga? atau mengecewakan seseorang? dua-duanya ga enak yaaa?? sumpeeh ga enak banget deeh kalo kita berada di situasi ini. Itulah yang saya rasakan sekarang, lebih tepatnya sih saya mengecewakan seseorang, seorang kepala sekolah di tempat saya mengajar.

Saya sedang galau dengan fikiran-fikiran saya yang sedang ruwet. Ceritanya saya mau resign dari sekolah itu di karenakan sekarang saya sudah pindah rumah dan tidak memungkinkan untuk mengajar lagi di situ karna jarak yang jauh. Padahal dari beberapa bulan yang lalu kepsek saya mati-matian ngurusin saya biar dapet tunjangan X. Dimana tunjangan ini paling diidam-idamkan oleh setiap guru dimanapun. Beliau bahkan bolak-balik kantor diknas kota Bekasi cuman buat ngurusin kami (kebetulan kami bertiga), bahkan beliau sempat cerita begitu rempongnya ngurusin hal ini selain itu beliau juga sangat baik terhadap saya. Naaah! sekarang saya mau resign, saat ini saya merasa akan sangat mengecewakan beliau. Mungkin beliau akan marah sekali ketika mendengar saya akan resign, padahal beliau memperjuangkan saya. Saya sendiripun ga menyangka akan terjadi hal seperti ini, karna saya ga pernah menduga kalo saya bakal pindah rumah hikshiks man proposes but God disposes. Sebaik-baiknya rencana kita kalo kata Tuhan belum waktunya yaa ga akan terlaksana rencana itu kan. Sedih sih 😦 tapi ini kenyataannya.

Sebenernya ini hanya dugaan saya atas kekhawatiran mengecewakan seseorang. Saya sih belon ketemu beliau, karna belum ada waktu yang tepat untuk membicarakannya 4 mata dan sekarang beliau sedang pulang kampung. Tapi dari jauh-jauh hari saya udah warning diri sendiri kalo saya bakal ngecewain seseorang. Apa yang harus saya lakukan kalo beliau kecewa berat sama saya? Mudah-mudahan beliau mengerti keputusan saya, Satu kata yang bisa saya ucapkan untuk beliau “MAAF”. Insyaallah, saya sudah siap dengan apa yang akan beliau bicarakan kepada saya. I hope everything will be okay.

Kamu pernah mengecewakan orang lain? gimana cara memperbaikinya?

Advertisements

10 thoughts on “Kecewa & Mengecewakan

  1. Menurut saya sih, mengecewakan atau kecewa itu ada di luar kekuasaan kita. Yang penting kita sudah melakukan apa yang terbaik sesuai kemampuan kita, pindah rumah dan segalanya itu bukan kita yang menentukan.

    Untuk rasa bersalah karena si kepala sekolah dulu sudah banyak membuat kebaikan pada kita dan kita merasa tidak enak (kok gue balesnya kayak gini sih *yes, I know that feeling*), yah, yang penting kita menjelaskan semampu kita dengan alasan yang jujur dan apa adanya, saya yakin ia mau mengerti. Kecuali kalau kepala sekolahnya itu tidak dewasa… semoga saja tidak :hehe.

    Like

  2. Mengecewakan pernah. Dikecewakan pernah. Sebenarnya sih yang penting jangan larut saja Egi. At least you have tried to do the best thing you can. Resign juga jadi opsi terakhir dan karena memang harus kan? Bukan disengaja. Pasti Kepala Sekolahnya paham – eventually.

    Like

  3. Kalau kecewa dan dikecewakan Insya Allah semua pernah mengalami. Karena itu soal peristiwa yang sudah terjadi, menurut saya nggak bisa diperbaiki. Satu-satunya yang kita peroleh adalah pelajaran. Kalau saya, usahanya adalah mencegah retaknya hubungan antara yang mengecewakan dan dikecewakan.

    Kalau saya di posisi mbak, saya bilang terus terang aja kalau menghargai usaha beliau. Saya bilang itu adalah hutang budi saya kepada beliau. Ingat-ingat terus untuk dikembalikan.

    Like

  4. Saya yakin beliau orang yang bijaksana kok. Bicarakan saja dengan jujur dan apa adanya. Kadang-kadang jujur yang menyakitkan lebih baik dari kebohongan kecil yang sering kita lakukan.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s